MENGENAL KELAINAN HIPOPIGMENTASI

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Kulitmu tiba-tiba mengalami muncul bercak-bercak putih? Waspadai, mungkin kamu mengalami hipopigmentasi. Tetapi hipopigmentasi sendiri ada beberapa jenis. Biar enggak salah, berikut ini 5 jenis hipopigmentasi yang wajib kamu tahu!

Hipopigmentasi sendiri merupakan suatu kondisi berkurang atau hilangnya pigmen alias warna kulit yang dapat terjadi di area tertentu atau bahkan di seluruh tubuh. Mengapa hal ini dapat terjadi? Umumnya orang yang mengalami hipopigmentasi mengalami penurunan melanosit atau melanin yaitu zat penentu warna kulit. Tetapi hipopigmentasi sendiri terbagi menjadi berbagai macambergantung} pada penyebabnya yaitu albinisme hingga pytiriasis versicolor alias panu atau kusta.

1. Albinisme

Albinisme adalah penyakit yang membuat penderitanya memiliki warna kulit rambut yang putih. Ini merupakan kelainan bawaan langka yang disebabkan oleh tidak adanya enzim yang menghasilkan melanin. Penderita albinisme biasanya disebut sebagai albino. Kelainan ini paling {acap kali|sering kali|sering|tak jarang|kerap|kerap kali} terjadi pada orang kulit putih.

2. Vitiligo

Vitiligo merupakan kelainan autoimun di mana sel penghasil pigmen alias melanin rusak. Gejala vitiligo umumnya berupa kelainan bercak putih halus pada kulit. Bercak ini bisa timbul di beberapa area tubuh, namun ada sebagian kasus di mana bercak putih vitiligo ini timbul di seluruh bagian tubuh.

3. Pityriasis Alba

Pityriasis alba adalah bercak putih yang umumnya timbul di wajah dan area yang tidak tertutup pakaian. Meskipun bukan tergolong penyakit menular, tetapi hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa penyebab dari pityriasis alba. Kondisi ini bisa berkaitan dengan riwayat eksim, peradangan kulit dan alergi. Umumnya, pityriasis alba ini dialami oleh anak kecil.

4. Hipopigmentasi Akibat Infeksi

Hipopigmentasi rupanya dapat pula diakibatkan oleh infeksi. Salah satu kasus hipopigmentasi akibat pengaruh infeksi adalah pytiriasis versicolor. Di Indonesia, pytiriasis versicolor lebih dikenal dengan panu atau lepra. Permasalahan kulit ini disebabkan oleh infeksi jamur yang tumbuh pada permukaan kulit yang menimbulkan bercak-bercak putih. Kasus pytiriasis versicolor lainnya adalah kusta yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae.

5. Hipopigmentasi Pasca Inflamasi

Hipopigmentasi dapat terjadi akibat pengaruh peradangan yang dialami oleh kulit, akibat pengaruh imbas} riwayat penyakit kulit {maupun|ataupun} luka bakar. Inflamasi tersebut juga bisa menyebabkan kulit kehilangan pigmentasinya. Tetapi umumnya, kasus hipopigmentasi pasca inflamasi ini tidak bersifat permanen tetapi tetap membutuhkan waktu yang cukup lama untuk meratakan kembali warna kulit seperti semula.
Itu 5 jenis variasi hipopigmentasi yang menimbulkan bercak-bercak putih, ternyata panu dan kusta juga termasuk!

Mengobati Hipopigmentasi dengan Tepat

Dokter dapat mendiagnosis hipopigmentasi berdasarkan pada penampilan kelainan pada kulit, mulai dari bentuk, ukuran, lokasi, dan sifat lesi. Kemungkinan dokter juga akan merekomendasikan untuk dilakukan uji kerokan kulit atau pemindaian laser, sebagai pemeriksaan penunjang yang dapat membantu mendiagnosa gangguan hipopigmentasi.

Penanganan hipopigmentasi pada dasarnya disesuaikan dengan penyebab utamanya. Dokter dapat memberi saran penanganan berupa penggunaan obat oles, chemical peeling atau terapi laser. Selain itu, dengan bantuan paparan cahaya sinar matahari, kemungkinan {area|zona} yang minim pigmen akan kembali ke warna kulit yang normal.

Pengobatan untuk vitiligo disesuaikan degan tingkat keparahan dan penyebarannya. Sebagian terapi yang umum diterapkan digunakan, di antaranya adalah merupakan terapi dengan psoralen yang bisa {mengabsorpsi|menyerap|meresap} {cahaya|sinar} ultraviolet, kortikosteroid, atau dengan pembedahan untuk mencangkok kulit.

Untuk kondisi hipopigmentasi yang dialami oleh penderita albinisme, hingga kini belum terdapat pengobatan untuk mengatasinya. Orang dengan albinisme seharusnya menerapkan tabir surya setiap saat sebab mereka lebih rentan mengalami kerusakan kulit dan kanker kulit akibat paparan cahaya sinar matahari.

Pemeriksaan oleh dokter kulit secara akurat, akan sangat membantu upaya penanganan perubahan warna kulit hipopigmentasi, sesuai dengan penyebab serta kondisi yang dialami saat ini. Dianjurkan agar menjalankan penanganan hipopigmentasi dengan pengawasan dokter, untuk menghindari kondisi tidak semakin memburuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *